Drs. Mustamir, M.MPd

Dengan Syair-Syairnya Menghantarkan Putra-Putranya Ke Syurga
Tumadhar binti ‘Amr bin Syuraid bin ‘Ushayyah As-Sulamiyah, lebih terkenal dengan panggilan
“Al-Khansa’ “. Dilahirkan dikeluarga berada dari suku Sulamiyah, bersuamikan Ruwahah bin Abdul Aziz As-Sulami. Dari pernikahannya dikaruniai empat orang putra yakni Yazid, Mu’awiyah,’Amr dan Amrah. Keluarga Al-Khansa’ masuk islam bersama dengan Bani Sulamiyah.
Al-Khansa’ merupakan penyair yang tiada tandingannya baik di jaman jahiliah maupun setelah masa Islam. Hal ini ditegaskan dari pernyataan Rasulullah s.a.w sendiri. Dalam sebuah hadits dikisahkan ketika Adi bin Hatim dan saudarinya,Safanah binti Hatim datang ke Madinah menghadap Rasulullah s.a.w. Adi bin Hatim menyampaiakan kepada Rasulullah s.a.w,: “ Ya Rasulallah, di golongan kami ada orang yang paling pandai dalam bersyair dan orang yang paling pemurah hati serta orang yang paling pandai (tangkas) berkuda”. Rasulullah s.a.w bersabda, “ Siapakah mereka itu, sebutkan namanya”, Adi menjawab : Yang paling pandai dalam bersyair adalah Umru’ul Qais bin Hujr, yang paling pemurah hati adalah Hatim Ath-Tha’i,ayahku,dan yang paling pandai (tangkas) berkuda adalah Amru bin Ma’dikariba”.
Rasulullah s.a.w bersabda :” Apa yang engkau katakan itu salah wahai Adi bin Hatim. Orang yang paling pandai bersyair adalah Al-Khansa’ binti Amru, orang yang paling murah hati adalah Muhammad Rasulullah serta orang yang paling pandai (tangkas) berkuda adalah Ali bin Abi Thalib”.
Pernyataan Rasulullah s.a.w merupakan penghargaan bagi Khansa’. Suatu saat Rasulullah s.a.w meminta Al-Khansa’ bersyair. Beliau sangat mengagumi bait-bait syair Al-Khansa’, saat Al-Khansa’ sedang bersyair Rasulullah s.a.w bersabda, “ Aduhai,wahai Khansa’, hatiku terasa indah dengan syairmu”.
Sejak menyatakan keislamannya, Al-Khansa’ tidak hanya bersemangat bersyair, namun juga terjun dalam beberapa pertempuran baik ketika bersama Rasulullah s.a.w maupun setelah wafatnya Rasulullah s.a.w. Dengan syair-syairnya, Al-Khansa’ membangkitkan semangat para sahabat untuk terus berjuang mengibarkan panji-panji Islam. Kemampuan bersyair Al-Khansa’ terbukti menjadi penyemangat bagi keempat putranya dalam perang Qadisyiyah. Peperangan Qadisyiyah terjadi pada tahun 14 Hijriyah / 636 pada masa kekhalifahan Khulafaurrasyidin Umar bin Khathab. Peperangan Qadisyiyah merupakan peperaangan besar antara umat Islam dengan kekaisaran Persia Sassania. Pasukan Islam dibawah Panglima Sa’ad bin Abi Waqqas berjumlah 48.000 harus menghadapi pasukan Persia yang berjumlah 130.000. Pertempuran besar ini melibatkan pahlawan pahlawan muslim yang sangat banyak, bahkan Umar bin Khathab sendiri menghendaki untuk memimpin langsung di medan pertempuran, namun dicegah oleh Abdurrahman bin Auf kemudian diusulkan Saad bin Abi Waqqas r.a. sebagai panlima umat Islam.
Berawal dari perdebatan keempat putra Al-Khansa’ untuk menentukan siapa yang harus tinggal di rumah menemani sang ibunda tercinta maka Al-Khansa’ faham sekali dengan keinginan putra-putra tercintanya, menjemput syahid di medan laga. Al-Khansa’pun memutuskan untuk menghantarkan keempat putranya di medan pertempuran. Diiringi keempat putra tercinta Al-Khansa’ bergabung dengan pasukan muslimin menuju medan pertempuran. Sampailah pasukan Islam di Qadisyiyah, tempat bertemunya dua pasukan Islam – Persia. Sebelum pertempuran berkecamuk di esok harinya, Al-Khansa’ memanggil keempat putranya. Maka mulailah Al-Khansa’ dengan kepiawaiannya berbicara dan mengukir kata-kata memberikan nasihat kepada keempat putranya. Diantara ucapan-ucapan Al-Khansa’ kepada keempat putrany adalah sebagai berikut :
“Wahai putra-putraku, kalian telah masuk Islam dengan penuh kepatuhan, kalian telah hijrah atas pilihan kalian sendiri, Demi Allah yang tidak ada Tuhan kecuali Dia, kalian adalah putra-putra dari satu orang lelaki sebagaimana kalian putra-putra dari satu orang perempuan. Belum pernah aku hiyanati ayah kalian, belum pernah aku permalukan paman kalian, belum pernah aku asingkan keturunan kalian, dan belum pernah aku ubah garis keturunan kalian. Kalian semua sudah mengetahui pahala besar dari Allah bagi orang-orang Islam yang memerangi orang-orang kafir. Ketahuilah! Tempat tinggal yang kekal lebih baik daripada tempat tinggal yang fana”.
Alloh Azza wa Jalla berfirman, (artinya)” Wahai orang-orang yang beriman, bersabaarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan) dan bertakwalah kepada Alloh supayakamu beruntung”. (Ali Imran ; 20)
“Putra-putraku,bersabarlah kalian, tabahkanlah kalian dan bertakwalah kepada Alloh s.w.t. semoga kalian menjadi orang-orang yang beruntung.Jika kalian mendengar genderang perang telah ditabuh dan api telah berkobar, maka terjunlah ke medan laga dan serbulah pusat kekuatan musuh, pasti kalian akan meraih kemenangan dan kemuliaan di dalam kehidupan abadi serta kekal selama-lamanya”.
“Jika besok pagi kalian bengun dalam keadaan sehat, berjihadlah kalian, berjihadlah dengan penuh keberanian dan mengharap pertolongan Alloh s.w.t. Majulah dengan penuh semangat dan masuklah dalam pertempuran, lawanlah para pemimpin orang-orang kafir, insyaalloh kalian akan masuk surga penuh dengan kemuliaan dan kebenaran”.
Dipagi harinya,maka berangkatlah keempat putra Al-Khansa ke medan perang dengan diiringi restu dari sang bunda tercinta. Dengan penuh keteguhan Al-Khansa menghantarkaan kepergian keempat anak kesayangan dengan penuh keteguhan hati. Kala keempat melangkahkan kaki menuju medan tempur bersyairkah mereka.
Putra sulung bersenandung :
Wahai saudaraku, sesungguhnya ibunda sang penasehat
Telah berwasiat kepada kita tadi malam
Dengan penjelasan yang jelas nan lugas
Bersegeralah menuju medan tempur yang penuh bahaya
Yang kalian hadapi hanyalah kawanan anjing yang menggonggong
Sedang mereka yakin akan binasa oleh kalian
Sedangkan engkau telah dinanti oleh kehidupan yang lebih baik
Ataukah syahid untuk mendapatkan ghonimah yang menguntungkan.
Putra kedua bersenandung :
Sesungguhnya ibunda yang tegar dan tegas
Yang memiliki wawasan yang luas dan lurus
Nasihat dari seorang ibu tanda cintantanya terhadap anak
Maka bersegeralah terjun di medan perang dengan jantan
Hingga mendapatkan kemenangan penyejuk hati
Ataukah syahid sebagai kemuliaan abadi
Di Surga Firdaus dan hidup bahagia
Putra ketiga bersenandung :
Demi Alloh
Tidak akan aku langgar satu hurufpun dari nasihat ibunda tercinta
Beliau telah perintahkan aku untuk berperang
Karena itu nasihat dan bukti kasih saying yang tulus dan lembut
Maka kobarkan semangat juang dan serbulah pasukan musuh
Hingga kalian berhasil melumat pasukan Kisra habis habisan dalam kekalahan.
Putra keempat bersenandung :
Aku tidak pantas menjadi putra Al-Khansa’ dan Al-Akram
Bukan pula Amru yang memiliki keagungan
Jika tidak di garis depan memerangi Persia
Menyerbu tanpa rasa gentar dan melibas setiap rintangan.
Laksana kuda perang yang di pacu, keempat putra Al-Khansa’pu segera menyerbu menyatu ditengah medan laga, bagai singa jantan meraung mencabik setiap musuh yang mendekat, kilatan-kilatan pedang Yazid, Mu’awiyah,’Amr dan Amrah seumpama cakar-cakar rajawali yang takkan pernah melesat dan melepas sang musuh. Do’a dan restu sang bunda -Al-Khansa’- benar-benar mengalir dalam darah, raga dan jiwa putra-putra tercinta. Entah berapa luka yang telang merobek kulit, daging dan tulang putra-putra Al-Khansa’, darah-darah putra Al-Khansa’ terhempas ditanah sebagai saksi atas syahidnya mereka. Keempat putra Al-Khansa’ meninggal dihari yang sama.
Syahidnya keempat putra Al-Khansa’ segera disampaiakan kepada ibunda tercinta. Inilah pernyataan perempuan agung itu : “ Segala puji bagi Alloh s.w.t. yang telah memuliakan diriku dengan syahidnya mereka. Aku memohon kepada Alloh -Tuhanku- agar berkenan menyatukan aku dengan anak-anakku di syurga”.
Al-Khansa sendiri meninggal dunia pada tahun 24 Hijriyah dengan usia sekitar 70 tahun.
“Siapa yang merelakan tiga orang putra kandungnya (meninggal dunia), maka dia akan masuk surga. Seorang wanita bertanya, bagaimana jika hanya dua putra?, Rasulullah Saw. kemudian menjawab: ‘begitu juga dua putra”. (Diriwayatkan oleh Nasa’I dan Ibnu Hibban dari Anas radhiyallahu’anhu dalam kitab Al-Albani Shahiihul Jaami’ no 5969).